ku tak mengerti
sungguh tak mengerti
benar2 tak mengerti
kenapa masih seperti iniiiii
!@!&^#%#$!^%$&^@!%!*((!@&^
adjhderrioqouwiouerdjhjfjjnccmn;lasjkdjuiyrhfakfajh;a
aahdurhijdsnfjhfjhfjfala';a''aakoewop
13 Agustus 2010
29 Juli 2010
I love you ???
berkubang rindu tanpa jemu...
berselimut hasrat tuk bertemu...
huuufffhhhh
inikah resiko
I Love You ???
berselimut hasrat tuk bertemu...
huuufffhhhh
inikah resiko
I Love You ???
jengah
dipeluk peluh dan jenuh tak berkesudahan
terenggut kemelut yang kian suram nan kelam
dirajam bosaaan tanpa ampuuuun
penat ku menumpuk bagai sampah
aku jengaaah
terenggut kemelut yang kian suram nan kelam
dirajam bosaaan tanpa ampuuuun
penat ku menumpuk bagai sampah
aku jengaaah
11 Mei 2010
yo podo podo
"yo podo podo" itu adalah bahasa jawa yg dalam bahasa indonesia artinya "ya sama sama"
kata-kata itu selalu terlontar dari mulutnya ketika aku bilang "Love You"
hufffhhh memang terasa sedikit menjengkelkan...tp ada nada humor tersimpan disana
dan aku selalu tertawa ketika dia menjawab seperti itu ... hahahahaa
meski mungkin terdengar tidak serius, tp aku menghibur diri bahwa itu artinya He Love Me Too ...
kata-kata itu selalu terlontar dari mulutnya ketika aku bilang "Love You"
hufffhhh memang terasa sedikit menjengkelkan...tp ada nada humor tersimpan disana
dan aku selalu tertawa ketika dia menjawab seperti itu ... hahahahaa
meski mungkin terdengar tidak serius, tp aku menghibur diri bahwa itu artinya He Love Me Too ...
Secuil Cerita Dari Lereng Merapi Part 2
Hal seperti ini sudah sangat membudaya di desa saya, sebagian besar penduduk desa saya hanya tamat SD. Yang melanjutkan sekolah sampai SMP bisa dihitung dengan jari, apalagi yang seberuntung saya sampai bisa kuliah. Tidak bisa dipungkiri juga bahwa perjuangan untuk bisa sekolah sangatlah berat (mungkin jika difilmkan hampir sama dengan film Laskar Pelangi). Waktu SD jarak yang harus saya tempuh untuk sampai sekolah adalah 3 km. Ketika saya harus melanjutkan SMP saya harus berjalan kaki 6 km, jalanan belum di aspal, harus melewati jalan yang sepi karena itu jarak yang menghubungkan satu desa ke desa lainnya (orang jawa bilang mbulak). Berangkat jam 5 pagi supaya tidak terlambat sampai sekolah, dan saat pulang kadang kami beruntung, ada mobil terbuka yang menuju ke desa kami untuk mengambil sayuran. Senang rasanya kalau pulang sekolah bisa naik mobil pick up itu. Kalau pulangnya tidak mendapat mobil tumpangan dan saya harus ikut pramuka bisa bisa sampai rumah sudah gelap.
Kalau harus jalan kaki, saya ingat sekali, setengah jam perjalanan kami (saya dan beberapa teman seperjuangan) sudah kelelahan. Kami mampir ke sebuah warung untuk membeli jajan, es lilin slalu jadi favorit saya untuk melepas dahaga. Lalu jajanan anak seperti ciki dll. Supaya pulang tidak kehausan, saya terbiasa menahan untuk tidak jajan disekolah, supaya kalau jalan kaki, ketika teman2 jajan, saya juga masih bisa jajan. Untungnya semangat saya untuk tetap melanjutkan sekolah masih membara, karena tidak sedikit teman teman SMP saya juga ada yang terpaksa keluar. Mungkin karena terlalu berat di perjalanan kali ya… (mungkin) tapi pasti ada yang jauh lebih berat dari yang saya alami.
Tahun berganti mulai ada sedikit perkembangan, berangkat sekolah ada mobil (masih sama pick up juga) yang sengaja mengangkut anak2 sekolah, dan orang yang mau pergi kepasar. Jam setengah enam pagi saya sudah harus sampai di tempat nge tem mobil itu. Dengan membayar Rp. 150 saya bisa sampai disekolah lebih pagi dan tidak kecapekan jalan kaki. Tapi sekali lagi mobil itu tidak selalu ada. Kadang2 kami tetap harus melanjutkan perjalanan kesekolah dengan jalan kaki. Menurut saya cukup seru dan menyenangkan, biasanya kita jalan kaki rame-rame sambil cerita kesana kemari. Kadang kita justru berlomba adu cepat jalan kaki, ada satu tempat yang menjadi tempat favorit kami istirahat. Dibawah pohon nangka dekat dengan irigasi, yang airnya sangat deras dan bening. Teman-teman lelaki saya bahkan kadang-kadang mereka mandi dan berenang. Tapi kami anak anak yang perempuan cukup bermain dengan air dipinggir kali irigasi tersebut. Kami lepaskan sepatu kami, lalu kecipak kecipuk,,,kita main2 air deh…(bagian ini jelek banget,,,)
Tiga tahun di bangku SMP saya lewati tanpa terasa, bahkan sepertinya terlalu singkat. Rasanya ingin kembali mengulang masa masa itu. Masa yang tak akan terlupakan seumur hidup saya, masa ketika banyak kebahagiaan kebahagiaan kecil terajut menjadi sebuah cerita tak terlupakan. Ketika helai2 tawa terangkai menjadi irama yang indah. Teman teman masa kecilku, yang menyusun cerita indah yang menjadi pondasi kokoh ketika saya harus melangkah ke gerbang sebuah jaman yang menurut saya bukan jaman yang mudah dilalui, kalau kita tidak mampu berjuang. Jaman yang kini mendamparkan saya di tempat ini....
Bersambung
Kalau harus jalan kaki, saya ingat sekali, setengah jam perjalanan kami (saya dan beberapa teman seperjuangan) sudah kelelahan. Kami mampir ke sebuah warung untuk membeli jajan, es lilin slalu jadi favorit saya untuk melepas dahaga. Lalu jajanan anak seperti ciki dll. Supaya pulang tidak kehausan, saya terbiasa menahan untuk tidak jajan disekolah, supaya kalau jalan kaki, ketika teman2 jajan, saya juga masih bisa jajan. Untungnya semangat saya untuk tetap melanjutkan sekolah masih membara, karena tidak sedikit teman teman SMP saya juga ada yang terpaksa keluar. Mungkin karena terlalu berat di perjalanan kali ya… (mungkin) tapi pasti ada yang jauh lebih berat dari yang saya alami.
Tahun berganti mulai ada sedikit perkembangan, berangkat sekolah ada mobil (masih sama pick up juga) yang sengaja mengangkut anak2 sekolah, dan orang yang mau pergi kepasar. Jam setengah enam pagi saya sudah harus sampai di tempat nge tem mobil itu. Dengan membayar Rp. 150 saya bisa sampai disekolah lebih pagi dan tidak kecapekan jalan kaki. Tapi sekali lagi mobil itu tidak selalu ada. Kadang2 kami tetap harus melanjutkan perjalanan kesekolah dengan jalan kaki. Menurut saya cukup seru dan menyenangkan, biasanya kita jalan kaki rame-rame sambil cerita kesana kemari. Kadang kita justru berlomba adu cepat jalan kaki, ada satu tempat yang menjadi tempat favorit kami istirahat. Dibawah pohon nangka dekat dengan irigasi, yang airnya sangat deras dan bening. Teman-teman lelaki saya bahkan kadang-kadang mereka mandi dan berenang. Tapi kami anak anak yang perempuan cukup bermain dengan air dipinggir kali irigasi tersebut. Kami lepaskan sepatu kami, lalu kecipak kecipuk,,,kita main2 air deh…(bagian ini jelek banget,,,)
Tiga tahun di bangku SMP saya lewati tanpa terasa, bahkan sepertinya terlalu singkat. Rasanya ingin kembali mengulang masa masa itu. Masa yang tak akan terlupakan seumur hidup saya, masa ketika banyak kebahagiaan kebahagiaan kecil terajut menjadi sebuah cerita tak terlupakan. Ketika helai2 tawa terangkai menjadi irama yang indah. Teman teman masa kecilku, yang menyusun cerita indah yang menjadi pondasi kokoh ketika saya harus melangkah ke gerbang sebuah jaman yang menurut saya bukan jaman yang mudah dilalui, kalau kita tidak mampu berjuang. Jaman yang kini mendamparkan saya di tempat ini....
Bersambung
28 Januari 2010
MTM; Maling Teriak Maling
pengecut...katamu
kau bilang aku pengecut
sembunyi dibalik kancut
suka main sikut
dasar pengecut
kau bilang aku tukang rebut
pasang muka cemberut
tp ga brani mengamuk
pengecuuuuuuuuuuuuttttttttttt
,,,
"baaaaah maling teriak maling"
kata bung iwan fals
hahahahaaaaaaaaaaaaa
kau bilang aku pengecut
sembunyi dibalik kancut
suka main sikut
dasar pengecut
kau bilang aku tukang rebut
pasang muka cemberut
tp ga brani mengamuk
pengecuuuuuuuuuuuuttttttttttt
,,,
"baaaaah maling teriak maling"
kata bung iwan fals
hahahahaaaaaaaaaaaaa
Secuil Cerita Lalu
Secuil cerita lalu
Ketika bangun pagi, udara masih begitu dingin, kaos kaki, jaket, dan semua penghangat tubuh masih belum terlepas, saya langsung berada didepan tungku rumah kami yang apinya sudah menyala (kami menyebutnya gegeni atau api-api). Biasanya ibu sudah selesai memasak (anak yg kurang ajar ya…)
Ah jadi inget masa lalu…
jam 6 pagi ketika saya masih SD masih sering terlihat kabut berarak turun…tapi sekarang pemandangan seperti itu jarang sekali terjadi. Secangkir teh pahit hangat sudah terhidang lengkap dengan gula aren,nya. Penduduk di desa kami terbiasa minum teh pahit dan gula aren. Secuil gula aren diemut lalu sesekali kita menyeruput teh pahit yang masih agak panas. Srrrruuuupppppp cep (duh susah saya menggambarkannya dengan tulisan) karena ketika kita menikmati teh itu dengan gula arennya, duh rasanya hidup ga ada beban sama sekali. Sambil bercerita ngalor ngidul, bapak biasanya menceritakan perkembangan tanamannya disawah, sedangkan kita sebagai anak hanya mendengar dan sesekali menimpali. Kalau sedang beruntung biasanya akan ada cemilan seperti singkong bakar, gorengan, dan sesekali biscuit marie (biscuit itu dulu sudah mewah sekali bagi kami)….
Setelah matahari mulai bersinar bapak adalah orang pertama yang beranjak dari tungku, langsung mencari “seragam” dan peralatannya (topi caping, cangkul dan juga arit)…kami anak2nya langsung berangkat ke sekolah, yang jaraknya kurang lebih 3km. kalau hari senin saya selalu pakai seragam lengkap dengan sepatunya, tapi hari berikutnya saya dan teman2 satu sekolah terbiasa membiarkan kaki kaki mungil kami telanjang bulat…kalo kurang beruntung kaki kami kadang digerayangi “rayang” (sejenis hewan melata seperti cacing berwarna hitam yang mengeluarkan lendir) hiiii sekarang saya tak sanggup membayangkan jika hewan itu menempel lagi dikaki saya. Hewan itu kalo sudah nempel susah sekali untuk dilepaskan…apalagi kalau musim hujan, hewan melata itu pasti banyak sekali…
Sesampai disekolah, jika beruntung kami langsung mendapat guru yang akan membantu kami menuntut ilmu. Maklumlah sekolah di desa kami kurang sekali gurunya, karena kekurangan tenaga pengajar ini kadang kita belajar sendiri (maen maen aja maksudnya he he he). Dulu teman satu kelas saya ada sekitar 20an anak. Tapi bisa dipastikan ketika sampai di akhir tahun atau kelas 6 satu persatu teman2 saya meninggalkan sekolah. Bukan karena tinggal kelas, tetapi karena keluar. Berbagai alasan yang melatarbelakangi mereka keluar, terutama untuk yang perempuan biasanya mereka sudah dijodohkan. Sedangkan yang laki – laki mereka keluar karena biasanya disuruh membantu orang tuanya disawah. Hampir semua teman2 SD saya saat ini sudah punya anak diatas usia 10 tahun, bisa diperkirakan mereka lulus Sekolah Dasar langsung menikah. …. Bersambung
Ketika bangun pagi, udara masih begitu dingin, kaos kaki, jaket, dan semua penghangat tubuh masih belum terlepas, saya langsung berada didepan tungku rumah kami yang apinya sudah menyala (kami menyebutnya gegeni atau api-api). Biasanya ibu sudah selesai memasak (anak yg kurang ajar ya…)
Ah jadi inget masa lalu…
jam 6 pagi ketika saya masih SD masih sering terlihat kabut berarak turun…tapi sekarang pemandangan seperti itu jarang sekali terjadi. Secangkir teh pahit hangat sudah terhidang lengkap dengan gula aren,nya. Penduduk di desa kami terbiasa minum teh pahit dan gula aren. Secuil gula aren diemut lalu sesekali kita menyeruput teh pahit yang masih agak panas. Srrrruuuupppppp cep (duh susah saya menggambarkannya dengan tulisan) karena ketika kita menikmati teh itu dengan gula arennya, duh rasanya hidup ga ada beban sama sekali. Sambil bercerita ngalor ngidul, bapak biasanya menceritakan perkembangan tanamannya disawah, sedangkan kita sebagai anak hanya mendengar dan sesekali menimpali. Kalau sedang beruntung biasanya akan ada cemilan seperti singkong bakar, gorengan, dan sesekali biscuit marie (biscuit itu dulu sudah mewah sekali bagi kami)….
Setelah matahari mulai bersinar bapak adalah orang pertama yang beranjak dari tungku, langsung mencari “seragam” dan peralatannya (topi caping, cangkul dan juga arit)…kami anak2nya langsung berangkat ke sekolah, yang jaraknya kurang lebih 3km. kalau hari senin saya selalu pakai seragam lengkap dengan sepatunya, tapi hari berikutnya saya dan teman2 satu sekolah terbiasa membiarkan kaki kaki mungil kami telanjang bulat…kalo kurang beruntung kaki kami kadang digerayangi “rayang” (sejenis hewan melata seperti cacing berwarna hitam yang mengeluarkan lendir) hiiii sekarang saya tak sanggup membayangkan jika hewan itu menempel lagi dikaki saya. Hewan itu kalo sudah nempel susah sekali untuk dilepaskan…apalagi kalau musim hujan, hewan melata itu pasti banyak sekali…
Sesampai disekolah, jika beruntung kami langsung mendapat guru yang akan membantu kami menuntut ilmu. Maklumlah sekolah di desa kami kurang sekali gurunya, karena kekurangan tenaga pengajar ini kadang kita belajar sendiri (maen maen aja maksudnya he he he). Dulu teman satu kelas saya ada sekitar 20an anak. Tapi bisa dipastikan ketika sampai di akhir tahun atau kelas 6 satu persatu teman2 saya meninggalkan sekolah. Bukan karena tinggal kelas, tetapi karena keluar. Berbagai alasan yang melatarbelakangi mereka keluar, terutama untuk yang perempuan biasanya mereka sudah dijodohkan. Sedangkan yang laki – laki mereka keluar karena biasanya disuruh membantu orang tuanya disawah. Hampir semua teman2 SD saya saat ini sudah punya anak diatas usia 10 tahun, bisa diperkirakan mereka lulus Sekolah Dasar langsung menikah. …. Bersambung
Langganan:
Postingan (Atom)
