11 Mei 2010

Secuil Cerita Dari Lereng Merapi Part 2

Hal seperti ini sudah sangat membudaya di desa saya, sebagian besar penduduk desa saya hanya tamat SD. Yang melanjutkan sekolah sampai SMP bisa dihitung dengan jari, apalagi yang seberuntung saya sampai bisa kuliah. Tidak bisa dipungkiri juga bahwa perjuangan untuk bisa sekolah sangatlah berat (mungkin jika difilmkan hampir sama dengan film Laskar Pelangi). Waktu SD jarak yang harus saya tempuh untuk sampai sekolah adalah 3 km. Ketika saya harus melanjutkan SMP saya harus berjalan kaki 6 km, jalanan belum di aspal, harus melewati jalan yang sepi karena itu jarak yang menghubungkan satu desa ke desa lainnya (orang jawa bilang mbulak). Berangkat jam 5 pagi supaya tidak terlambat sampai sekolah, dan saat pulang kadang kami beruntung, ada mobil terbuka yang menuju ke desa kami untuk mengambil sayuran. Senang rasanya kalau pulang sekolah bisa naik mobil pick up itu. Kalau pulangnya tidak mendapat mobil tumpangan dan saya harus ikut pramuka bisa bisa sampai rumah sudah gelap.
Kalau harus jalan kaki, saya ingat sekali, setengah jam perjalanan kami (saya dan beberapa teman seperjuangan) sudah kelelahan. Kami mampir ke sebuah warung untuk membeli jajan, es lilin slalu jadi favorit saya untuk melepas dahaga. Lalu jajanan anak seperti ciki dll. Supaya pulang tidak kehausan, saya terbiasa menahan untuk tidak jajan disekolah, supaya kalau jalan kaki, ketika teman2 jajan, saya juga masih bisa jajan. Untungnya semangat saya untuk tetap melanjutkan sekolah masih membara, karena tidak sedikit teman teman SMP saya juga ada yang terpaksa keluar. Mungkin karena terlalu berat di perjalanan kali ya… (mungkin) tapi pasti ada yang jauh lebih berat dari yang saya alami.


Tahun berganti mulai ada sedikit perkembangan, berangkat sekolah ada mobil (masih sama pick up juga) yang sengaja mengangkut anak2 sekolah, dan orang yang mau pergi kepasar. Jam setengah enam pagi saya sudah harus sampai di tempat nge tem mobil itu. Dengan membayar Rp. 150 saya bisa sampai disekolah lebih pagi dan tidak kecapekan jalan kaki. Tapi sekali lagi mobil itu tidak selalu ada. Kadang2 kami tetap harus melanjutkan perjalanan kesekolah dengan jalan kaki. Menurut saya cukup seru dan menyenangkan, biasanya kita jalan kaki rame-rame sambil cerita kesana kemari. Kadang kita justru berlomba adu cepat jalan kaki, ada satu tempat yang menjadi tempat favorit kami istirahat. Dibawah pohon nangka dekat dengan irigasi, yang airnya sangat deras dan bening. Teman-teman lelaki saya bahkan kadang-kadang mereka mandi dan berenang. Tapi kami anak anak yang perempuan cukup bermain dengan air dipinggir kali irigasi tersebut. Kami lepaskan sepatu kami, lalu kecipak kecipuk,,,kita main2 air deh…(bagian ini jelek banget,,,)
Tiga tahun di bangku SMP saya lewati tanpa terasa, bahkan sepertinya terlalu singkat. Rasanya ingin kembali mengulang masa masa itu. Masa yang tak akan terlupakan seumur hidup saya, masa ketika banyak kebahagiaan kebahagiaan kecil terajut menjadi sebuah cerita tak terlupakan. Ketika helai2 tawa terangkai menjadi irama yang indah. Teman teman masa kecilku, yang menyusun cerita indah yang menjadi pondasi kokoh ketika saya harus melangkah ke gerbang sebuah jaman yang menurut saya bukan jaman yang mudah dilalui, kalau kita tidak mampu berjuang. Jaman yang kini mendamparkan saya di tempat ini....
Bersambung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar