28 Januari 2010

Secuil Cerita Lalu

Secuil cerita lalu
Ketika bangun pagi, udara masih begitu dingin, kaos kaki, jaket, dan semua penghangat tubuh masih belum terlepas, saya langsung berada didepan tungku rumah kami yang apinya sudah menyala (kami menyebutnya gegeni atau api-api). Biasanya ibu sudah selesai memasak (anak yg kurang ajar ya…)
Ah jadi inget masa lalu…
jam 6 pagi ketika saya masih SD masih sering terlihat kabut berarak turun…tapi sekarang pemandangan seperti itu jarang sekali terjadi. Secangkir teh pahit hangat sudah terhidang lengkap dengan gula aren,nya. Penduduk di desa kami terbiasa minum teh pahit dan gula aren. Secuil gula aren diemut lalu sesekali kita menyeruput teh pahit yang masih agak panas. Srrrruuuupppppp cep (duh susah saya menggambarkannya dengan tulisan) karena ketika kita menikmati teh itu dengan gula arennya, duh rasanya hidup ga ada beban sama sekali. Sambil bercerita ngalor ngidul, bapak biasanya menceritakan perkembangan tanamannya disawah, sedangkan kita sebagai anak hanya mendengar dan sesekali menimpali. Kalau sedang beruntung biasanya akan ada cemilan seperti singkong bakar, gorengan, dan sesekali biscuit marie (biscuit itu dulu sudah mewah sekali bagi kami)….
Setelah matahari mulai bersinar bapak adalah orang pertama yang beranjak dari tungku, langsung mencari “seragam” dan peralatannya (topi caping, cangkul dan juga arit)…kami anak2nya langsung berangkat ke sekolah, yang jaraknya kurang lebih 3km. kalau hari senin saya selalu pakai seragam lengkap dengan sepatunya, tapi hari berikutnya saya dan teman2 satu sekolah terbiasa membiarkan kaki kaki mungil kami telanjang bulat…kalo kurang beruntung kaki kami kadang digerayangi “rayang” (sejenis hewan melata seperti cacing berwarna hitam yang mengeluarkan lendir) hiiii sekarang saya tak sanggup membayangkan jika hewan itu menempel lagi dikaki saya. Hewan itu kalo sudah nempel susah sekali untuk dilepaskan…apalagi kalau musim hujan, hewan melata itu pasti banyak sekali…
Sesampai disekolah, jika beruntung kami langsung mendapat guru yang akan membantu kami menuntut ilmu. Maklumlah sekolah di desa kami kurang sekali gurunya, karena kekurangan tenaga pengajar ini kadang kita belajar sendiri (maen maen aja maksudnya he he he). Dulu teman satu kelas saya ada sekitar 20an anak. Tapi bisa dipastikan ketika sampai di akhir tahun atau kelas 6 satu persatu teman2 saya meninggalkan sekolah. Bukan karena tinggal kelas, tetapi karena keluar. Berbagai alasan yang melatarbelakangi mereka keluar, terutama untuk yang perempuan biasanya mereka sudah dijodohkan. Sedangkan yang laki – laki mereka keluar karena biasanya disuruh membantu orang tuanya disawah. Hampir semua teman2 SD saya saat ini sudah punya anak diatas usia 10 tahun, bisa diperkirakan mereka lulus Sekolah Dasar langsung menikah. …. Bersambung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar